BIOGRAFI ULAMA KHARISMATIK ACEH,ABU TANJONG BUNGONG

BIOGRAFI ULAMA KHARISMATIK ACEH,ABU TANJONG BUNGONG

Abu tanjong bunggong di lahirkan di desa Tanjong Bungong, Ulee Gle, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya (sebelumnya Kabupaten Pidie) pada 7 Muharram 1359 H. atau akhir tahun 1940 M. Ulama ahli ilmu falak (astronomi) ini menceritakan, orang tuanya berasal dari Panteue Brueh, Tanah Luas Aceh Utara, yang kemudian kawin ke Ulee Gle dan mendirikan dayah Tanjong Bungong di Ulee Gle Kecamatan Bandar Dua.

Karena masa kecil Tgk. Abdullah dibesarkan dalam keluarga ulama, maka pendidikan awalnya pun didapatkan pada orang tuanya di dayah Tanjong Bungong pimpinan ayahnya. Tahun 1946 masuk pendidikan formal pada sekolah SRI. Mejelang tahun 1950 masuk sekolah SR di Ulee Gle, dan lulus tahun 1953.

Kemudian melanjutkan pendidikan agamanya ke dayah Gampong Muelum Samalanga. Dua tahun belajar di dayah ini, orang tuanya Tgk. Ibrahim meninggal dunia tahun 1955. Tak lama setelah itu, Tgk. Abdullah meneruskan pendidikannya ke pesantren Madinatul Ma’arif Aron Lhokseumawe pimpinan seorang ulama besar Tgk. Syafi’i. Tgk. Syafi’i ini adalah menantu dari Tgk. Hasan Kumbang (kakek dari Tgk. Muhammad Dewi) salah seorang ulama kharismatik Aceh ketika itu.

Lebih kurang satu tahun di pesantren Madinatul Ma’arif—karena situasi kurang memungkinkan—maka Tgk. Abdullah pidah belajar ke Panteue Brueh pada dayah Bustanul Huda pimpinan Abdul Rani yang lebih dikenal dengan sebutan Tgk. Di Aceh.

Selama dua tahun di dayah ini, juga karena situasi keamaan di Aceh masih belum stabil, maka Tgk. Abdullah yang haus ilmu ini meninggalkan dayah Bustanul Huda Panteue Brueh pidah ke dayah Tgk. Abdullah Hanafi Tanoh Mirah, yang waktu itu dayah tersebut baru dibuka.

Menjelang akhir tahun 1959 Tgk. Abdullah kembali ke Ulee Gle dan membantu pengajian pada dayah yang ditinggalkan orang tuanya yaitu dayah Tanjong Bungong, hingga tahun 1971 dayah tersebut diteruskan pimpinannya oleh Tgk. Abdullah hingga sekarang ini.

Selain mengurus dayah Tanjong Bungong, Tgk. Abdullah juga aktif dalam organisasi Alwasliyah (sebuah organisasi Islam beraliran Syafi’iyah) yang didirikan oleh Tgk. Abulhamid (Abu Uteun Bayu) di Kecamatan Bandar Dua Pidie pada awal tahun 1970-an.

Alwasliah ini termasuk organisasi Islam yang sangat berperan di Pidie, khususnya di Kecamatan Banda Dua mendidik kader-kader ulama Syafi’iyah dalam memantapkan Islam Ahlusunnah Waljamaah dalam masyarakat Bandar Dua. Tgk. H. Abdullah termasuk salah satu dari pengurus Alwasliyah ini serkaligus sebagai guru dalam Alwasliyah ini.

Sedangkan dalam Partai Politik, Tgk. Abdullah juga mengaku keterlibatannya, tapi tidak dalam bentuk praktis. Kerana beliau lebih banyak menghabiskan waktunya dalam persoalan ummat. Karena itu, Tgk. Abdullah sempat penjadi pengurus Majlis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Pidie selama 2 periode, yang kemudian dialihkan menjadi anggota pengurus MPU Pidie Jaya. Dan kemudian menjadi salah seorang anggota pengurus MPU Provinsi Aceh.

Ahli Astronomi
Diantara ulama lainnya di Aceh saat ini, Tgk. H. Abdullah termasuk satu-satunya ulama yang menguasai ilmu falak (astronomi) secara mendalam. Sehingga banyak ulama lain di Aceh harus merujuk pada Tgk. Abdullah Tanjong Bungong ini. Baik dalam menentukan arah kiblat maupun dalam hal menentukan hari pertama Ramadhan dan 1 Syawal setiap tahunnya.

Oleh karenanya, kemampuan beliau dalam menyusun Imsakiah Ramadhan dan menentukan hilal awal puasa sudah diakui oleh pemerintah di Aceh.

Tgk. Abdullah yang lebih dikenal Abu Tanjong Bungong ini mengaku mendalami ilmu falak atau astronomi ini pada Tgk. Muhammad Isa Peureupok Samtalira Aron Aceh Utara, yang merupakan seorang ulama terkenal dalam ilmu falak. Kemudian pendalaman ilmu falak ini dilanjutkan Tgk. Abdullah pada Drs. Tgk. Ali Muda (desen Universitas Islam Sumatera Utara) di Medan.

Setelah berapa lama belajar pada Tgk. Ali Muda—dengan pertimbangan sangat jauh ke Medan—maka Tgk. Ali Muda kemudian bersedia mengajar sebulan sekali di Lhokseumawe yang difasilitasi oleh MPU Lhokseumawe. “Karena saya sangat ingin mendalami ilmu falak (astronomi) ini, maka saya terus belajar sama Tgk. Ali Muda yang sebulan sekali datang ke Lhokseumawe.

Mungkin karena saya sangat yakin mendalami ilmu ini, sehigga saya sedikit lebih mampu dibandingkan teman-teman lain,” tutur Tgk. H. Abdullah Tanjong Bungong.

Namun sebelum itu, Tgk. Abdullah juga mengaku pernah belajar ilmu falak pada Abu Teupin Raya, tapi sistem belajarnya masih dalam bentuk salafiah dengan menggunakan peralatan rumus wijayab yang terbuat dari kayu yang sangat sederhana.

Sedangkan sistem belajar pada Tgk. Ali Muda menurut Tgk. H. Abdullah telah menggunakan sistem peralatan teknologi yang bisa menentukan langsung titik-titik koordinat, baik dalam mencari letak arah kilbat, maupun dalam menentukan waktu Salat setiap waktu, dan melihat hilal pada setiap awal puasa, serta menentukan 1 Syawal pada setiap akhir bulan Ramadhan.

Sistem belajar astronomi atau ilmu falak dengan menggunakan taknologi menurut Tgk. Abdullah Tanjong Bungong jauh lebih mudah dan cepat dibandingkan sistem salafiah dengan peratatan yang sederhana. Memang, sebelum teknologi secanggih saat ini, ilmu astronomi (ilmu falak) ini telah dikembangkan dalam Islam sebelum dunia Barat menaruh perhatian terhadap ilmu ini.

Para ilmuan muslim dulu telah menaruh perhatian besar terhadap ilmu astronomi ini, berbagai tiori telah dikembangkan oleh para ilmuan Islam, terutama di abad-abad kejayaannya. Hal ini dimaksutkan untuk dapat menentukan lokasi dan memperkirakan posisi mata hari, bulan, planet, dan gugusan bintang. Malah Ilmuan muslin saat itu telah mengembangkan ilmu astronomi ini sampai pada untuk menentukan arah kiblat dari berbagai penjuru dunia.

Salah satu manuskrip yang pernah ditemukan dari pengembangan tiori-tiori ilmu astronomi dalam dunia Islam yang dikembangkan para ilmuan muslim dulu adalah Kitab Ghara’ib al-Funun wa-Mulah al-‘Uyun, yang isinya mengungkapkan konsep Islam tentang astronomi (ilmu falak) dan giografi yang dilengkapi dengan serangkaian peta-peta berwarna di dalamnya.

Sayangnya, kitab ini tidak diketahui siapa ilmuan muslim yang telah menuangkan ilmu pengatuannya dalam kitab yang diberi judul Ghara’ib al-Funun wa-Mulah al-‘Uyun ini. Diperkirakan kitab ini disusun antara tahun 1020 dan 1050 Masehi. Pada paruh pertama abad ke 11 dulu dunia Islam telah memiliki perkembangan ilmu astronomi yang sangat pasat pada masa itu.

Yang kemudian kitab tersebut diterjemahkan menjadi The Book of Strange Arts and Visual Delights, yang kemudiannya lagi kitab ini lebih popular dengan sebutan The Book of Curiosities, dan salinan naskahnya sekarang masih tersimpan pada perpustakaan Bodleian, University Oxford di Inggeris.

Oleh karenanya, tidak mengherankan kalau ilmu falak ini masih menaruh perhatian para ulama sekarang untuk mendalaminya. Apalagi saat ini sudah dibantu oleh perkembangan teknologi yang demikian canggih, sehingga untuk membuktikan tiori-tiori dari ilmu falak sekarang sudah jauh lebih mudah daripada diawal-awal perkembangan dengan menggunakan sistem salafi dalam menghitung koordinat-koordinat yang sangat lamban.

Tgk. H. Abdullah Tanjong Bungong ini tampaknya telah mahir sekali dalam menggunakan alat toknologi untuk membuktikan tiori-tiori dalam ilmu falak. Di rumahnya ada beberapa alat teknolagi yang bisa dipraktek langsung menentukan ukuran waktu dan arah kiblat.

Dulu menurut Tgk. H. Abdullah jarang sekali orang mau mendalami ilmu falak, karena harus memakai rumus-rumus dengan hitungan manual yang sangat lamban. Sekarang setelah adanya teknologi ilmu tersebut sudah mudah dipelajari.

“Saya malah diminta untuk mengajar khusus ilmu falak ini pada Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Dayah Budi Masjid Raya Samalanga, setelah beberapa kali mengajar kemudian saya tunjukkan T. Mahmud dari Bambi Pidie untuk menggati saya, karena beliau ahli metematika, sehingga cara menggukankan tiori hitungan ilmu falak ini agak lebih cepat,” sebut Tgk. H. Abdullah.
Menyangkut perbedaan hari atau waktu awal puasa atau hari raya yang sering terjadi antara satu ulama dengan ulama lainnya, menurut Abu Tanjong Bungong, sebenarnya dapat dikompromi untuk menghindari perbedaan itu.
Seperti yang pernah dilakukan di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh tahun 2010. Pertemuan yang dihadiri oleh para ulama dari seluruh Aceh saat itu adalah untuk melihat secara muktabar, dalam arti penentuan itu harus dilihat dengan idhlah muthallek dan muktabar. Misalnya waktu di Aceh dengan Kuala Lumpur, ini berarti satu muthallek.

Tetapi waktu Aceh dengan Jakarta tidak idhlah muthallek. Berarti kalau nampak bulan di Jakarta belum tentu nampak di Aceh.

Jadi menurut Tgk. Abdullah, untuk mempersatukan umat dalam perbedaan itu masih banyak cara yang bisa dilakukan. Cara tersebut ada yang bisa dengan satu ikklep atau dengan cara natuffah. Natuffah maksudnya apabila telah dilakukan isbat (allurah) oleh orang lain terhadap nampak bulan, maka wajib bagi kita berpedoman pada hasil isbat itu. Oleh karenanya, apabila telah nampak bulan di Jakarta setelah dilakukan isbat, maka kita dapat mengikutinya.

Meskipun pendapat itu agak lemah, tapi untuk suatu ijtihat mempersatukan umat kita dapat mengamalnya. Walaupun terkadang ulama-ulama dayah kita di Aceh tidak begitu respon terhadap hasil yang telah diisbatkan oleh pemerintah di Jakarta.

“Itu sah-sah saja. Tapi yang penting jangan sampai terjadi misalnya orang di Banda Aceh mulai puasanya hari Rabu, di Bireun malah hari Kamis,” ungkap Tgk. H. Abdullah Tanjong Bungong.

Apalagi kalau hal itu telah diputuskan oleh Hakim berdasarkan isbat Menteri Agama, maka dalam hal penetapan awal Ramadhan atau jatuhnya 1 Syawal tidak ada lagi dakwa-dakwi bagi kita untuk tidak mengikutinya.

Kerana itu, dalam kurikulum pendidikan dayah pimpinan Tgk. H. Abdullah Tanjong Bungong di Ulee Gle sekarang telah dimasukkan materi khusus ilmu falak untuk diajarkan pada santrinya. Malah menurut Tgk. Abdullah yang belajar ilmu falak di dayahnya sekarang tidak hanya satri yang ada di dayah tersebut, banyak ulama-ulama yang datang dari daerah lain di Aceh belajar ilmu falak pada Tgk. H. Abdullah.

Sistem belajar yang diberikan, selain mengunakan alat teknologi juga mengunakan alat-alat praktek secara manual. “Tapi kebanyakan yang datang belajar ke dayah ini (maksudnya ke dayah Tgk. Abdullah) tidak mau menggunakan alat sitem manual, karena di samping agak lama juga sangat capek dalam menghitung untuk menemukan titik koordinatnya,” jelas Abu Tanjong Bungong sambil memperlihatkan sebuah benda teknologi bernama GPS yang selalu dipakainya dalam praktek ilmu falak di dayahnya sekarang ini.

Demikian pula dalam menanggapi terjadinya pergeseran arah kiblat yang pernah diumumkan Kementrian Agama Republik Indonesia pada bulan Juli 2010. Menurut Tgk. H. Abdullah, apa yang diumumkan Menteri Agama saat itu tidak berlaku untuk Aceh, karena posisi letak titik koordinat Aceh dengan arah kiblat masih tetap biasa, tidak ada perubahan.

“Bisa jadi untuk daerah Jakarta atau pulau Jawa terjadi pergeseran, walau pun pergeseran itu tidak signifikan. Tapi untuk Aceh, arah kiblatnya tetap pada koordinat biasa, tidak terjadi pergeseran,” jelas Tgk. Abdullah.

Oleh sebab itu, menurutnya ketika Menteri Agama mengumumkan adanya pergeseran arah kiblat, seharusnya harus ada pengecualian daerah-daerah mana saja di Indonesia yang mengalami terjadinya pergeseran arah kiblat. “Buktinya, kita di Aceh tidak terjadi pergeseran itu,” tutur Tgk. Abdullah Tanjong Bongong.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

PONPES YPI DARUSSA'ADAH ACEH CABANG PANTERAJA Membutuhkan Uluran tangan anda

DAYAH DARUSSA'ADAH ACEH CABANG PANTERAJA ADALAH SALAH SATU DAYAH PENINGGALAN ABU TEUPIN RAYA

INNALILAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN,ULAMA SEPUH ACEH SANG SINGA PODIUM MENINGGAL DUNIA